oleh

Pupuk Kimia Mahal, Petani Enam Desa di Jalur Pipa EMCL Beralih Pupuk Semi Oranik

Kotatuban.id – Mahalnya harga pupuk dan obat-obatan kimia buatan pabrik kian menjepit modal tanam para petani di Kabupaten Tuban. Menjawab persoalan ini, ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) melatih petani Desa Leran Kulon, Glodog, Pucangan, Cendoro, Ngimbang, Kecamatan Palang dan Desa Gesing Kecamatan Semanding untuk membuat pupuk semi organik.

Keluhan mengenai beratnya beban biaya operasional pertanian itu salah satunya dirasakan oleh Jasmat, petani asal Desa Glodog, Kecamatan Palang. Ia mengaku, pola pemupukan dan penggunaan pestisida kimia berlebih selama bertahun-tahun justru membuat tanahnya kian keras. Selain itu, biaya beli obat-obatan pertanian di toko terus meroket tidak sebanding dengan hasil panen.

“Kami butuh cara baru yang lebih efisien agar biaya tanam tidak terus membengkak,” ungkap Jasmat pada pelatihan teknik budidaya hemat biaya dan ramah lingkungan bersama forum ruang belajar “Ngudar Tani”, di Balai Dusun Jalak, Desa Sumurjalak, Kecamatan Plumpang, Senin (10/8/2026).

Bagi para petani, perbaikan pola tanam ini menjadi jawaban konkret atas kekhawatiran gagal panen akibat serangan nematoda dan keasaman tanah yang tinggi. Pengalaman di lahan percontohan Sumurjalak membuktikan bahwa ketergantungan pada pestisida kimia mahal justru memperparah daya tahan tanaman dalam jangka panjang.

“Kami juga sudah melihat hasil pertanian terbukti berhasil di lahan percontohan (demplot) di Sumurjalak yang menggunakan pupuk dan obat-obatan organik,” ungkapnya.

Para petani dilatih meracik fungisida mandiri menggunakan bahan yang terjangkau dan mudah didapat, seperti kombinasi belerang, KOH, serta garam. Petani juga diajarkan pemanfaatan racikan Zat Pengatur Tumbuh (ZPT) pengisi bulir padi berbahan jagung manis dan obat gendar untuk memaksimalkan pengisian malai tanpa harus membeli formula buatan pabrik.

“Cara-cara seperti ini yang kami butuhkan sekarang,” imbuh Jasmat bersemangat.

Kegiatan ini merupakan bagian dari Program Pertanian Berkelanjutan dan Aman yang diinisiasi ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) bersama SKK Migas, dengan menggandeng Yayasan eL-SAL Indonesia.

Perwakilan EMCL, Joni Wicaksono, menjelaskan bahwa pendekatan berbasis masalah ini sengaja dirancang agar solusi yang berhasil di satu titik dapat direplikasi secara meluas oleh masyarakat di sekitar wilayah operasi.

“Ketika petani mampu menyelesaikan masalah lahannya melalui racikan mandiri, modal produksi dapat ditekan dan efisiensi meningkat,” papar Joni.

Joni berharap, penyebaran ilmu antarpetani ini menjadi pengungkit produktivitas sekaligus memperkuat ketahanan usaha tani daerah. Selain itu, karena para petani ini merupakan penggarap lahan sepanjang jalur pipa minyak Blok Cepu, Joni menekankan kolaborasi dan sinergi dalam menjaga keamanan dan keselamatan. Menurutnya, jalur pipa minyak ini aman berkat dukungan dari masyarakat sekitar, khususnya petani. (duc)