oleh

Benteng Etika di Era Disrupsi, RPS Latih Puluhan Pelajar Tuban Praktik Mobile Journalism

kotatuban.id – Laju disrupsi informasi yang masif di era digital tak hanya mengubah cara masyarakat memproduksi dan mengonsumsi berita, tetapi juga membawa tantangan besar berupa maraknya disinformasi. Menjawab fenomena tersebut, Ronggolawe Press Solidarity (RPS) menggelar Sekolah Jurnalistik bertajuk Mobile Journalism bagi generasi muda di Kabupaten Tuban, Rabu (23/9/2026).

​Kegiatan yang berlangsung di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 2 Tuban ini diikuti sebanyak 35 pelajar dari MAN 2 Tuban, SMA/SMK Negeri Rengel dan Soko, serta sejumlah madrasah aliyah dan sekolah swasta di wilayah sekitar. Program yang disokong oleh PT Pertamina Hulu Energi Tuban East Java dan PT Pertamina EP Sukowati ini dirancang untuk membekali para siswa dengan kaidah jurnalisme yang kuat di tengah gempuran konten media sosial.

​Acara dibuka langsung oleh Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Tuban, Umi Kulsum. Turut hadir dalam pembukaan tersebut Kepala MAN 2 Tuban, Qomaruddin, serta Head of Communication, Relation & CID Pertamina EP Cepu Zona 11, Wazirul Luthfi.

​Ketua RPS Tuban, Khoirul Huda, menegaskan bahwa pelatihan ini merupakan agenda rutin untuk mencetak generasi penerus yang melek jurnalisme. Menurutnya, pemahaman mendasar mengenai kerja-kerja jurnalistik sangat penting agar generasi muda tidak sekadar menjadi konsumen informasi, tetapi juga mampu melakukan kontrol sosial dan edukasi.

​“Tahun ini kami menyasar siswa di Kecamatan Rengel dan Soko agar mereka lebih siap. Jurnalisme saat ini bersinggungan erat dengan keberadaan influencer maupun buzzer, di mana unggahan media sosial sering kali tidak berbasis fakta,” ujar Huda.

​Huda juga menyinggung stigma negatif masyarakat terhadap profesi wartawan yang kerap diidentikkan dengan berita buruk. Menurutnya, hal itu sering dipicu oleh praktik oknum wartawan yang belum tersertifikasi. “Kami tegaskan, 100 persen anggota RPS telah tersertifikasi oleh Dewan Pers untuk menjamin profesionalisme,” tambahnya.

​Pada kesempatan yang sama, Head of Communication, Relation & CID Pertamina EP Cepu Zona 11, Wazirul Luthfi, memaparkan bahwa pesatnya perkembangan teknologi telah mengikis batasan wilayah (borderless) dan mengubah lanskap media massa secara drastis. Kehadiran smartphone memungkinkan siapa saja menjadi pembuat berita melalui pendekatan mobile journalism.

​Meski demikian, Luthfi menekankan bahwa kebenaran dan etika jurnalistik harus tetap menjadi benteng utama dalam menyaring arus informasi.

​”Jurnalistik tidak lagi harus menggunakan kamera besar, cukup dengan smartphone, cerita besar bisa dimulai. Di era konvergensi media saat ini, satu cerita bisa menjangkau banyak platform dan audiens,” jelas Luthfi.

​Dukungan penuh turut disampaikan oleh Kepala Kantor Kemenag Tuban, Umi Kulsum. Pihaknya mengapresiasi kolaborasi para jurnalis dan Pertamina dalam membina para pelajar. Ia berharap para peserta memanfaatkan momentum ini untuk menyerap ilmu sebanyak-banyaknya agar lebih bijak bermedia sosial.

​‘’Kami sangat mendukung dan akan terus meningkatkan kegiatan agar anak-anak melek prinsip jurnalistik. Ke depan, Kemenag juga siap menindaklanjuti kerja sama lanjutan dengan para wartawan,’’ ungkap Umi.

​Sementara itu, wartawan senior yang juga anggota RPS, Sri Wiyono, yang hadir sebagai salah satu narasumber, mengingatkan para peserta akan esensi abadi dari profesi jurnalis di tengah arus perubahan zaman.

​‘’Jurnalisme tidak akan mati. Selama kehidupan masih berdenyut, napas jurnalisme masih terus berembus,’’ tegas Sri Wiyono memotivasi para peserta. (duc)