kotatuban.id – Perkembangan teknologi komunikasi dan informasi yang kian pesat telah mengikis batasan wilayah (borderless) sekaligus mengubah lanskap media massa secara fundamental. Kehadiran platform digital dan smartphone kini memungkinkan siapa saja untuk merekam serta mempublikasikan peristiwa secara instan melalui konsep mobile journalism (mojo).
Meski begitu, di tengah derasnya arus informasi tanpa batas, nilai kebenaran dan etika jurnalistik dinilai tetap menjadi benteng utama agar masyarakat tidak terjebak dalam disinformasi.
Hal tersebut ditegaskan oleh Head of Communication, Relations & CID Pertamina EP (Pertamina Hulu Energi Zona 11), Wazirul Luthfi, saat menjadi narasumber dalam pelatihan jurnalistik tingkat pelajar yang diinisiasi oleh Ronggolawe Press Solidarity (RPS) di Kabupaten Tuban.
Wazirul menyampaikan bahwa teknologi modern memberikan keunggulan fleksibilitas yang sangat besar bagi generasi muda. Untuk memproduksi karya jurnalistik yang berdampak luas, seseorang tidak lagi bergantung pada peralatan produksi berat atau kamera liputan berukuran besar.
“Jurnalistik tidak lagi harus menggunakan kamera besar. Cukup dengan smartphone, cerita besar bisa dimulai. Di era konvergensi media saat ini, satu cerita bisa menjangkau banyak platform dan audiens sekaligus,” ujar Wazirul di hadapan para peserta.
Kendati akses publikasi kini berada dalam genggaman setiap orang, Wazirul mengingatkan adanya tantangan sosial mendasar, terutama maraknya penyebaran informasi palsu (hoax). Fenomena pengguna media sosial yang lebih mengutamakan merekam atau mengunggah konten ketimbang memberikan pertolongan saat terjadi insiden di lapangan menjadi salah satu contoh pergeseran budaya akibat kemajuan teknologi yang tidak diimbangi empati.
Oleh karena itu, penguatan etika, pemahaman teknik verifikasi, serta integritas personal menjadi modal utama yang wajib dimiliki oleh calon jurnalis muda.
“Informasi yang baik akan membangun masa depan yang lebih baik, tetapi informasi hoaks dapat memicu perpecahan. Di situlah peran jurnalis hadir sebagai penjaga kebenaran,” tegasnya.
Ia mencontohkan bagaimana narasi spekulatif yang kerap beredar di masyarakat mengenai proses teknis industri migas—seperti tuduhan pengoplosan bahan bakar—seharusnya bisa diklarifikasi secara jernih apabila jurnalis dan masyarakat memahami prosedur pengujian laboratorium yang ketat serta tersertifikasi sebelum produk didistribusikan.
Dalam kesempatan tersebut, Wazirul memberikan apresiasi atas langkah edukasi dan pembinaan jurnalis muda yang dilakukan di tingkat sekolah menengah. Regenerasi jurnalis yang melek teknologi dipandang sangat krusial untuk mengimbangi dinamika era digital.
Namun, ia menekankan bahwa penguasaan teknologi mutakhir—termasuk kecerdasan buatan (artificial intelligence)—harus berlandaskan nilai moral dan karakter yang kuat.
“Kunci utamanya adalah mendahulukan adab sebelum ilmu. Penguasaan teknologi canggih jika didasari etika dan adab yang baik akan melahirkan karya yang bermanfaat serta membawa dampak positif bagi masyarakat luas,” tambahnya.
Selain memaparkan materi jurnalistik, Wazirul juga membeberkan realitas dan tantangan sektor energi nasional di hadapan para siswa. Saat ini, dengan populasi penduduk Indonesia yang mencapai sekitar 290 juta jiwa, kebutuhan minyak bumi nasional berada di angka 1,6 juta barel per hari (bpd).
Sementara itu, kemampuan produksi minyak bumi dalam negeri saat ini baru berkisar antara 600 hingga 610 ribu barel per hari.
“Defisit yang cukup besar tersebut membuat Indonesia mau tidak mau harus mengimpor sekitar 1 juta barel minyak per hari untuk memenuhi kebutuhan domestik,” jelas Wazirul.
Untuk menopang kemandirian energi, Pemerintah Indonesia menetapkan target strategis produksi minyak bumi sebesar 1 juta barel per hari pada tahun 2030 mendatang.
Ia menambahkan, proyeksi kebutuhan energi berbasis fosil—seperti minyak, gas bumi, dan batu bara—diperkirakan masih tetap dibutuhkan hingga tahun 2050. Meski pada periode tersebut ditargetkan sekitar 35 persen dari total kebutuhan energi nasional sudah berhasil dikonversi ke Energi Baru Terbarukan (EBT), peran sektor migas tetap vital sebagai penyangga transisi energi nasional. (duc)






