kotatuban.id. GRESIK – Pagi di kantor Cabang Dinas Pendidikan Wilayah Kabupaten Gresik kini terasa berbeda. Tidak lagi identik dengan suasana birokrasi yang lamban dan kaku. Area pelayanan tampak lebih tertata. Pegawai bergerak cepat. Aktivitas berlangsung dinamis sejak pintu kantor dibuka.
Perubahan itu berlangsung dalam waktu relatif singkat. Hanya empat hingga lima bulan sejak Eko Agus Suwandi memimpin.
Di lingkungan pendidikan Gresik, gaya kerjanya mulai dikenal dengan istilah sederhana: “sat-set”.
Cepat bergerak. Cepat memutuskan. Cepat mengeksekusi.
Karakter itu langsung terlihat dari langkah pertamanya membenahi wajah kantor cabang dinas. Gedung yang sebelumnya terkesan biasa kini berubah lebih representatif. Ruang pelayanan dibuat lebih nyaman. Penataan lingkungan kantor terasa lebih modern dan terbuka.
Namun, pembenahan itu ternyata bukan sekadar urusan tampilan fisik.
Mantan kepala sekolah SMA Taruna Brawijaya Kediri tersebut sedang membangun budaya kerja baru. Bahwa pelayanan publik harus menghadirkan rasa aman dan nyaman, baik bagi pegawai maupun masyarakat yang datang.
“Kalau tempat kerja nyaman, cara melayani masyarakat juga ikut berubah,” ujar salah satu staf.
Perubahan lain bergerak di ruang digital.
Selama ini, media sosial sekolah berjalan sendiri-sendiri. Informasi pendidikan sering tercecer dan tidak terintegrasi. Kondisi itu membuat publik kesulitan memperoleh informasi yang cepat dan akurat.
Eko lalu mengonsolidasikan seluruh akun Instagram sekolah SMA dan SMK agar terhubung dengan akun resmi cabang dinas.
Hasilnya mulai terasa.
Informasi sekolah menjadi lebih masif. Prestasi siswa lebih mudah diketahui masyarakat. Aktivitas pendidikan lebih hidup di ruang digital. Jumlah pengikut akun resmi cabang dinas pun melonjak tajam hanya dalam beberapa bulan.
Di era digital seperti sekarang, langkah itu menjadi penting. Pendidikan tidak cukup hanya berjalan baik, tetapi juga harus mampu membangun komunikasi publik yang efektif.
Gebrakan yang paling menyita perhatian muncul lewat peluncuran aplikasi EduTrust.
Aplikasi ini dirancang untuk memantau kinerja pegawai secara real-time. Aktivitas kerja tercatat digital. Target pekerjaan dapat dipantau lebih transparan.
Langkah tersebut terbilang tidak biasa di lingkungan birokrasi pendidikan.
Namun bagi Eko, digitalisasi merupakan bagian dari upaya membangun tata kelola yang profesional dan akuntabel.
“Yang dibangun bukan sekadar pengawasan, tetapi budaya kerja,” ungkap seorang pegawai.
Transformasi itu mulai berdampak pada capaian pendidikan.
Di sektor vokasi, angka keterserapan lulusan SMK ke dunia usaha dan dunia industri meningkat signifikan. Bahkan sebagian siswa sudah direkrut perusahaan sebelum menerima ijazah kelulusan.
Hal itu menunjukkan hubungan sekolah dengan dunia industri mulai terbangun lebih kuat.
Sementara di jalur akademik, capaian siswa SMA juga mengalami peningkatan. Jumlah siswa yang lolos ke perguruan tinggi negeri melalui jalur SNBP dan PTKIN naik dibanding tahun sebelumnya.
Capaian tersebut diperkirakan masih akan bertambah setelah pengumuman SNBT.
Tidak berhenti di sana, Eko juga mulai mendorong kepala sekolah keluar dari zona nyaman.
Para kepala sekolah diminta memaparkan inovasi secara terbuka. Tidak cukup hanya menjalankan rutinitas administrasi.
Sekolah harus bergerak menghadirkan perubahan nyata.
Dalam berbagai kesempatan, Eko lebih sering turun langsung ke lapangan dibanding duduk lama di ruang kerja. Ia memilih menyelesaikan persoalan melalui komunikasi dan eksekusi cepat.
Pendekatan itu membuat hubungan pimpinan dan staf terasa lebih cair.
Meski memimpin sebagai orang nomor satu di Cabang Dinas Pendidikan Gresik, ia dikenal low profile dan mudah berdiskusi dengan pegawai.
Suasana kerja yang sebelumnya formal perlahan berubah menjadi lebih kolaboratif.
Dari situlah loyalitas tumbuh.
Pegawai merasa memiliki tanggung jawab bersama untuk memajukan pendidikan.
Dalam waktu singkat, ritme baru birokrasi pendidikan mulai terasa di Gresik. Perpaduan teknologi digital, komunikasi publik, dan pendekatan humanis sedang dibangun menjadi fondasi perubahan.
Perjalanan transformasi itu memang masih panjang. Namun dalam beberapa bulan terakhir, publik mulai melihat satu hal yang jarang muncul dalam birokrasi pendidikan: kecepatan bergerak.
Dan di Gresik, ritme “sat-set” itu kini sedang perbincangan.(*)






