kotatuban.id – Kebakaran yang melanda Pasar Baru Tuban pada Kamis (23/4) dini hari sekitar pukul 02.30–03.00 WIB tak sekadar menyisakan puing dan abu. Di balik kobaran api yang melahap sejumlah kios, muncul pertanyaan serius soal penyebab pasti dan sistem antisipasi kebakaran di kawasan pasar tersebut.
Rekaman video yang beredar memperlihatkan api sudah dalam kondisi membesar saat pertama kali terdokumentasi. Lidah api menjulang tinggi, disertai kepulan asap tebal, menandakan bahwa kebakaran kemungkinan telah berlangsung beberapa waktu sebelum diketahui luas oleh warga. Situasi ini memunculkan dugaan adanya keterlambatan deteksi dini.
Informasi awal menyebutkan, api diduga berasal dari korsleting listrik. Namun, kondisi instalasi listrik di kawasan pasar yang padat dan sebagian diduga tidak tertata dengan baik menjadi faktor yang patut ditelusuri lebih jauh. Apalagi, banyak kios menggunakan sambungan listrik tambahan untuk menunjang aktivitas dagang.
Di sisi lain, cepatnya rambatan api juga mengindikasikan minimnya sekat atau sistem proteksi kebakaran antar kios. Bangunan yang berdempetan dengan material mudah terbakar membuat api dengan mudah berpindah dari satu titik ke titik lain, memperbesar dampak kerusakan dalam waktu singkat.
Petugas pemadam kebakaran memang bergerak cepat setelah menerima laporan. Namun, pertanyaan lain yang muncul adalah sejauh mana kesiapan sarana penunjang di lokasi, seperti hydrant, alat pemadam api ringan (APAR), hingga akses mobil damkar ke titik kebakaran. Faktor-faktor ini kerap menjadi penentu dalam menekan skala kebakaran di area padat seperti pasar tradisional.
Hingga saat ini, penyebab pasti kebakaran masih dalam penyelidikan. Kejadian ini menjadi pengingat bahwa pengelolaan pasar tidak hanya soal aktivitas ekonomi, tetapi juga menyangkut aspek keselamatan. Evaluasi menyeluruh terhadap instalasi listrik, tata bangunan, dan sistem mitigasi kebakaran menjadi pekerjaan rumah yang tak bisa lagi ditunda. (co)






