oleh

Angin Kencang Terjang Desa Tegalrejo, 36 Rumah Warga Rusak

kotatuban.id – Warga Desa Tegalrejo, Kecamatan Widang Kabupaten Tuban, masih diselimuti kecemasan setelah angin kencang menerjang permukiman mereka pada Selasa sore, (4/02/202). Hembusan angin yang muncul tiba-tiba itu memporak-porandakan puluhan rumah dan membuat sebagian warga memilih mengungsi sementara karena takut terjadi kejadian susulan.

Sebanyak 36 rumah dilaporkan mengalami kerusakan, mulai dari ringan hingga berat. Sejumlah atap beterbangan ke jalan, dinding dapur roboh, hingga pohon tumbang yang menimpa kandang dan teras rumah warga. Suasana pascabencana tampak memilukan: ibu-ibu mengumpulkan genting yang berserakan, sementara bapak-bapak berusaha menegakkan kembali rangka atap yang patah. Anak-anak hanya bisa berdiri di depan pintu menatap rumah mereka yang tak lagi utuh.

BPBD Kabupaten Tuban langsung turun ke lokasi untuk melakukan pendataan sekaligus meninjau kondisi rumah warga yang rusak cukup parah. Sudarmaji, Kepala Pelaksana BPBD Tuban, menegaskan bahwa pihaknya akan memberikan pendampingan dan bantuan penanganan darurat kepada warga terdampak.

“Kami sudah melakukan pendataan cepat dan berkoordinasi dengan pemerintah daerah. Warga yang rumahnya rusak berat akan kami prioritaskan untuk mendapat bantuan perbaikan,” ujar Sudarmaji.

Ia juga mengimbau masyarakat agar tetap waspada mengingat cuaca ekstrem masih berpotensi terjadi dalam beberapa hari ke depan.

“Kami minta warga tetap siaga. Cuaca sedang tidak stabil, sehingga kemungkinan angin kencang atau hujan lebat bisa kembali terjadi sewaktu-waktu,” tambahnya.

Sementara itu, pihak BMKG Kabupaten Tuban turut memberikan analisis mengenai penyebab angin kencang yang terjadi. Arbi Susilo Hidayat, staf BMKG Tuban, menjelaskan bahwa fenomena tersebut merupakan dampak dari perubahan pola angin regional yang meningkat intensitasnya akibat suhu permukaan dan tekanan udara yang tidak stabil.

“Angin bergerak dari arah Grabagan menuju timur ke Widang dengan kecepatan cukup tinggi. Kondisi atmosfer saat itu memang labil sehingga angin berpotensi merusak bangunan,” jelas Arbi.

Ia juga menegaskan bahwa masyarakat perlu memperhatikan potensi bahaya cuaca ekstrem selama periode puncak musim hujan.

“Kami mengimbau warga untuk menghindari berteduh di bawah pohon besar dan memastikan bangunan rumah dalam kondisi kuat. Ini penting untuk mengurangi risiko korban,” kata Arbi.

Hingga kini, warga bersama aparat desa, BPBD, dan relawan masih bekerja bakti membersihkan puing-puing bangunan serta memperbaiki beberapa rumah yang rusak ringan. Meski dampak kerusakan cukup besar, tidak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut. Pemerintah desa juga telah mengajukan laporan resmi agar bantuan perbaikan segera direalisasikan. (co)