oleh

Inspiratif: Pasutri di Tuban Bawa 13 Kaleng Koin untuk Daftar Haji

kotatuban.id – Suasana di Kantor Bank Syariah Indonesia (BSI) KCP Tuban mendadak berbeda pada pagi itu. Para nasabah yang tengah antre sempat menoleh ketika sepasang suami istri masuk perlahan sambil mendorong tumpukan kaleng biskuit berukuran besar. Ada 13 kaleng, semuanya terisi penuh uang koin pecahan Rp1.000 yang bertahun-tahun mereka kumpulkan. Hari itu, Rabu (4/2/2026), adalah hari yang sejak lama mereka nantikan: hari ketika tabungan receh mereka akhirnya menjadi tiket untuk mendaftar haji.

Pasangan itu adalah Mohammad Nasrudin (45) dan istrinya Hariyati (40), warga Desa Sumberagung, Kecamatan Plumpang. Tubuh mereka tampak lelah karena harus mengangkut belasan kaleng yang beratnya mencapai puluhan kilogram. Namun raut wajah keduanya penuh cahaya, seperti memikul harapan yang akhirnya menemukan jalannya. Uang logam yang selama bertahun-tahun disimpan dalam kaleng biskuit itu mereka bawa dengan penuh kehati-hatian—seolah setiap koin memiliki kisahnya sendiri.

Nasrudin bercerita, kebiasaan menabung receh itu bermula dari situasi ekonomi keluarga yang tidak selalu stabil. Ia bekerja serabutan, sementara istrinya membantu berjualan kecil-kecilan. Setiap sisa uang belanja, setiap kembalian dari toko, hingga koin pekerjaannya sehari-hari, tak pernah dibiarkan berserakan. Mereka memasukkannya ke kaleng bekas biskuit yang mereka simpan di pojok lemari kayu. “Sedikit-sedikit lama-lama jadi gunung,” ujarnya sambil tersenyum malu, tetapi bangga. Selama lebih dari sepuluh tahun, gunung kecil itu akhirnya menjelma menjadi rupiah yang cukup untuk mendaftar haji.

Ketika kaleng-kaleng itu dibuka di kantor bank, suasana berubah menjadi haru sekaligus riuh. Petugas bank yang awalnya tidak menyangka kedatangan mereka langsung menawarkan bantuan. Meja pelayanan dipenuhi lembaran kertas dan koin logam yang ditata rapi untuk dihitung satu per satu. Proses menghitung memakan waktu cukup lama, sampai beberapa pegawai lain ikut turun tangan. Namun alih-alih merasa merepotkan, pegawai bank tampak senang membantu pasangan itu. Ada rasa kagum ketika mendapati betapa sabar dan tekunnya mereka menjalani proses yang memakan waktu bertahun-tahun.

Pihak BSI, melalui Branch Manager Riyanto, menyampaikan apresiasi atas ketekunan pasangan tersebut. Ia menuturkan bahwa tidak sedikit warga yang menabung untuk haji, tetapi jarang yang melakukannya dengan konsistensi melalui uang receh. “Ini contoh penting bahwa niat baik tidak mengenal besar kecilnya nominal. Yang paling utama adalah ketulusan,” ujarnya. Setelah proses verifikasi, biaya setoran awal haji mereka pun dinyatakan sah, dan keduanya resmi terdaftar sebagai calon jemaah haji.

Sementara itu, Hariyati tampak berkaca-kaca ketika buku tabungan haji resmi berada di tangannya. Ia mengaku, saat kondisi ekonomi keluarga sulit, sempat terbersit keinginan menggunakan tabungan itu. Namun ia dan suami sepakat menjaga mimpi mereka tetap hidup. “Kaleng itu tidak boleh dibuka, kecuali untuk berangkat haji,” kenangnya dengan suara bergetar. Baginya, tabungan itu bukan hanya uang—melainkan simbol kesabaran, doa, dan keyakinan bahwa Allah selalu memberi jalan bagi yang bersungguh-sungguh.

Kini, pasangan tersebut hanya tinggal menunggu antrean keberangkatan, seperti jutaan calon jemaah lainnya di Indonesia. Meski jarak keberangkatan masih panjang, keduanya tidak merasa terburu-buru. Yang terpenting, mereka sudah melangkah, dan langkah itu mereka tempuh dengan jerih payah yang tidak sedikit. Kisah mereka menjadi pengingat bahwa ibadah bukan hanya soal kemampuan finansial, tetapi juga soal proses panjang yang ditempuh dengan keteguhan hati.

Bagi warga sekitar yang mendengar cerita mereka, Nasrudin dan Hariyati bukan hanya pasangan biasa—mereka adalah bukti bahwa impian, betapapun terasa jauh, selalu bisa dicapai jika diperjuangkan setulus hati. Dan 13 kaleng biskuit yang terlihat sederhana itu kini berubah menjadi simbol harapan yang menginspirasi banyak orang. (co)