kotatuban.id. GRESIK – Langkah progresif kembali digelorakan Dinas Pendidikan Jawa Timur. Menyambut bulan suci 1447 Hijriah, instansi pendidikan terbesar di Jawa Timur itu resmi meluncurkan Gerakan Ramadhan Pendidikan Berdampak, sebuah program masif yang mewajibkan seluruh SMA, SMK, dan SLB menggelar minimal tiga kegiatan Ramadhan yang berorientasi pada penguatan karakter dan kualitas diri pelajar.
Program ini bukan sekadar agenda seremonial tahunan. Ia dirancang sebagai gerakan kolektif yang mengubah wajah aktivitas Ramadhan di sekolah menjadi lebih terstruktur, terukur, dan berdampak nyata. Kepala Dindik Jatim, Aries Agung Paewai, menegaskan bahwa Ramadhan harus dimaknai sebagai momentum akselerasi, bukan perlambatan.
“Ramadhan bukan alasan untuk melambat. Justru ini momentum untuk meningkatkan kualitas diri, pelayanan, dan kinerja pendidikan,” tegas Aries, Rabu (18/2).
Menurutnya, suasana spiritual selama bulan puasa harus menjadi energi positif yang mendorong produktivitas dan kreativitas siswa. Sekolah tidak boleh hanya mengurangi jam efektif tanpa menghadirkan aktivitas bermakna. Sebaliknya, Ramadhan harus menjadi ruang pembinaan karakter yang lebih kuat dibanding bulan-bulan lainnya.
Empat fokus utama menjadi roh dari Gerakan Ramadhan Pendidikan Berdampak. Pertama, penguatan spiritualitas. Sekolah didorong menghadirkan kegiatan yang memperdalam nilai keimanan dan akhlak siswa. Kedua, produktivitas, di mana siswa tetap aktif berkarya meski sedang berpuasa. Ketiga, kepedulian sosial sebagai bentuk empati terhadap sesama. Keempat, inovasi, agar sekolah mampu melahirkan program-program kreatif yang relevan dengan perkembangan zaman.
Bentuk kegiatannya pun beragam dan fleksibel. Mulai dari pesantren kilat tematik yang dikemas lebih kontekstual, proyek mini berbasis karya seperti pembuatan video dakwah kreatif atau produk kewirausahaan Ramadhan, hingga gerakan sedekah dan bakti sosial yang menyasar masyarakat sekitar sekolah.
Tak hanya itu, lomba konten edukatif juga dianjurkan untuk memanfaatkan literasi digital siswa. Dengan pendekatan ini, Ramadhan menjadi ruang aktualisasi talenta generasi muda, bukan sekadar rutinitas tahunan.
Dindik Jatim bahkan mendorong gerakan Ramadhan tanpa sampah plastik sebagai bagian dari pendidikan karakter peduli lingkungan. Selain itu, program Guru Asuh bagi murid rentan juga digencarkan untuk memastikan tidak ada siswa yang terabaikan secara emosional maupun akademik selama bulan suci.
Gerakan ini langsung direspons cepat oleh jajaran di daerah. Di wilayah Kabupaten Gresik, Kepala Cabang Dinas Pendidikan (Kacabdindik) Wilayah Kabupaten Gresik, Eko Agus Suwandi, bergerak sigap menyosialisasikan program tersebut kepada seluruh kepala SMA, SMK, dan SLB di bawah koordinasinya.
Bersama Kasi SMK serta Kasi SMA-PKPLK, Eko menggelar pertemuan koordinasi untuk memastikan setiap sekolah memahami esensi program ini. Ia menegaskan bahwa kegiatan Ramadhan tidak boleh lagi sekadar rutinitas formal seperti ceramah singkat atau tadarus tanpa perencanaan matang.
“Kegiatan Ramadhan di sekolah bapak dan ibu tidak hanya diisi dengan kegiatan rutinitas, tetapi juga harus memfasilitasi siswa secara optimal. Ramadhan di sekolah harus benar-benar berdampak,” pesannya.
Ia mendorong sekolah berkolaborasi dengan pesantren di sekitar lingkungan sekolah agar suasana keilmuan dan spiritual semakin kuat. Santunan anak yatim, kelas inspiratif Ramadhan yang menghadirkan tokoh masyarakat, hingga optimalisasi podcast sekolah sebagai media dakwah kreatif menjadi beberapa contoh yang ia tawarkan.
Eko bahkan memberikan ruang luas bagi kepala sekolah dan tim pembina keagamaan untuk berinovasi. Menurutnya, setiap satuan pendidikan memiliki karakteristik berbeda sehingga pendekatan kegiatan pun harus adaptif.
Langkah ini dinilai sebagai terobosan besar yang dapat menciptakan ekosistem pendidikan religius yang produktif. Ramadhan tidak lagi dipahami sebagai masa “low activity”, melainkan high impact learning moment. Sekolah menjadi pusat pembentukan karakter, kreativitas, sekaligus kepedulian sosial.
Gerakan Ramadhan Pendidikan Berdampak 1447 H pun diprediksi menjadi model pembinaan karakter yang bisa direplikasi di daerah lain. Dengan ribuan sekolah terlibat di seluruh Jawa Timur, dampaknya diyakini akan terasa luas, tidak hanya bagi siswa tetapi juga bagi masyarakat sekitar.
Di tengah tantangan era digital dan dinamika sosial yang cepat berubah, langkah Dindik Jatim ini menghadirkan pesan kuat, pendidikan karakter harus terus bergerak, bahkan di bulan suci sekalipun. Ramadhan bukan jeda, melainkan lompatan. Dan dari sekolah-sekolah di Jawa Timur, semangat itu kini sedang menyala.(JS)






