kotatuban.id, GRESIK – Pesantren tak cukup hanya menjadi tempat menimba ilmu agama. Di tengah perubahan dunia kerja yang semakin cepat, pesantren dituntut mampu melahirkan santri yang memiliki keterampilan, kompetensi dan siap terjun ke dunia industri.
Pesan tersebut menjadi salah satu poin penting yang disampaikan Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat Abdul Muhaimin Iskandar saat kunjungan kerja di Pondok Pesantren Ihyaul Ulum, Desa Dukun Anyar, Kecamatan Dukun, Gresik, Sabtu (8/8).
Cak Imin menegaskan, penguatan kualitas sumber daya manusia (SDM) menjadi bagian penting dalam menjadikan pesantren sebagai motor pemberdayaan masyarakat. Pendidikan di lingkungan pesantren, termasuk pendidikan vokasi melalui SMK, harus diarahkan agar memiliki keterkaitan nyata dengan kebutuhan dunia kerja dan industri.
“Pesantren jangan hanya menjadi pusat pendidikan, tetapi juga harus mampu menjadi penghubung antara masyarakat dengan dunia industri,” demikian garis besar pesan Cak Imin dalam mendorong pengembangan kawasan sosial ekonomi pesantren.
Persoalannya, lulusan SMK pesantren tidak boleh berhenti pada status “lulus”. Mereka harus memiliki skill yang benar-benar dibutuhkan pasar kerja.
Model pendidikan vokasi di pesantren pun idealnya tidak berjalan sendiri. Kurikulum, praktik kerja, sertifikasi kompetensi hingga kemitraan dengan dunia usaha dan dunia industri harus dirancang dalam satu ekosistem.
Dengan demikian, santri tidak hanya memiliki bekal ilmu agama dan karakter, tetapi juga mempunyai kompetensi teknis yang bisa menjadi modal memasuki dunia kerja maupun membangun usaha sendiri.
Gagasan tersebut sejalan dengan arah pemberdayaan pesantren yang menempatkan santri sebagai bagian dari kekuatan ekonomi masyarakat. Pesantren memiliki fungsi pendidikan sekaligus pemberdayaan masyarakat sebagaimana ditegaskan dalam UU Nomor 18 Tahun 2019 tentang Pesantren.
SMK pesantren pun memiliki posisi strategis. Jika dikelola serius, SMK di lingkungan pesantren dapat menjadi mesin pencetak tenaga kerja terampil sekaligus penggerak kewirausahaan santri. Apalagi ekosistem pesantren memiliki basis komunitas, unit usaha, koperasi, jejaring alumni dan potensi ekonomi lokal yang dapat menjadi laboratorium pembelajaran vokasi.
Tantangannya tinggal bagaimana mengubah pola pendidikan dari sekadar “belajar keterampilan” menjadi “menghasilkan kompetensi yang diakui industri”.
Sertifikasi kompetensi menjadi salah satu pintu penting. Demikian pula pengalaman magang, teaching factory, keterlibatan praktisi industri serta pembelajaran berbasis proyek harus diperkuat.
Sebab, dunia industri tidak hanya membutuhkan ijazah. Industri membutuhkan tenaga kerja yang bisa bekerja.
Di titik inilah pesan Cak Imin menjadi relevan bagi pengembangan SMK pesantren. Santri masa kini tidak cukup hanya disiapkan menjadi pencari kerja. Mereka harus dipersiapkan menjadi tenaga profesional, wirausahawan sekaligus penggerak ekonomi masyarakat.
Sebelumnya, Cak Imin juga menekankan pentingnya tiga bekal bagi lulusan pesantren: kemampuan atau skill, integritas, dan ketaatan pada ilmu pengetahuan. Pesan tersebut disampaikannya saat melepas lulusan SMA/MA dan SMK Unggulan Pesantren Bina Insan Mulia (BIMA), Cirebon, Juni 2026.
Artinya, masa depan SMK pesantren tidak sekadar berbicara soal berapa banyak siswa yang lulus.
Pertanyaan yang lebih penting adalah: berapa banyak lulusan yang benar-benar kompeten, terserap industri, mampu berwirausaha dan menciptakan lapangan kerja?
Jika itu mampu dijawab, SMK pesantren bukan lagi sekadar pelengkap pendidikan pesantren. Ia bisa menjadi mesin baru pemberdayaan ekonomi santri dan masyarakat.(co/red)






