oleh

GADGET DIREM! Sekolah-sekolah Di Gresik Mulai “PUASA HP” Saat Jam Pelajaran

-Laporan Utama-0 Dilihat

kotatuban.id. GRESIK (14/4) – Era bebas main ponsel di sekolah resmi berakhir. Pemerintah Provinsi Jawa Timur menggeber kebijakan pembatasan penggunaan gadget di seluruh SMA, SMK, dan SLB. Mulai Senin (13/4), siswa hanya boleh menyentuh handphone untuk urusan belajar, di luar itu, siap-siap “dikandangkan”.

Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, menegaskan langkah ini bukan sekadar aturan, tapi “rem darurat” untuk menyelamatkan kualitas pembelajaran sekaligus karakter generasi muda.

“Pemanfaatan gadget harus diatur agar pembelajaran aman, sehat, dan berorientasi pada penguatan karakter,” tegasnya di Surabaya, Selasa (14/4).

Di wilayah Cabang Dinas Pendidikan Kabupaten Gresik, kebijakan ini langsung disambut serius oleh sekolah-sekolah. Sejumlah SMA, SMK, dan SLB mulai menerapkan sistem “parkir HP” saat kegiatan belajar mengajar (KBM) berlangsung. Siswa diminta menaruh gadget di kotak khusus sebelum pelajaran dimulai, sebuah pemandangan baru yang kini jadi rutinitas. Di SMAN 1 Dukun misalnya, sekolah menerapkan sistem titip hape kepada petugas sekolah yang telah ditunjuk. Setiap titip dan ambil siswa harus tanda tangan.

Lain lagi di SMAN 1 Kedamean, sekolah menyediakan loker khusus untuk menyimpan gadget siswa diruang guru. Tiap loker berisi 36, yang dikunci saat KBM, hanya saja jika guru membutuhkan gadget untuk pelajaran harus ada ijin dari sekolah.

Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah Kabupaten Gresik, Eko Agus Suwandi, menegaskan bahwa pihaknya siap mengawal penuh implementasi kebijakan ini di seluruh satuan pendidikan.

“Ini bukan sekadar pembatasan, tetapi bagian dari gerakan membangun budaya belajar yang sehat. Kami ingin memastikan siswa lebih fokus, interaksi sosial kembali hidup, dan karakter positif benar-benar tumbuh di lingkungan sekolah,” ujarnya.

Eko juga menambahkan bahwa sekolah-sekolah di Gresik telah melakukan sosialisasi intensif kepada siswa dan orang tua. Bahkan, beberapa sekolah sudah lebih dulu melakukan simulasi sebelum kebijakan resmi diterapkan.

“Kami dorong sekolah untuk kreatif dalam penerapan, termasuk menyediakan tempat penyimpanan gadget yang aman serta memastikan pengawasan berjalan optimal. Ini kerja bersama, bukan hanya sekolah, tapi juga orang tua,” tegasnya.

Langkah tegas ini bukan tanpa alasan. Penggunaan gadget yang lepas kendali dinilai menjadi biang masalah: mulai dari paparan konten negatif, cyberbullying, kecanduan digital, hingga menurunnya daya pikir kritis siswa.

Kepala Dinas Pendidikan Jatim, Aries Agung Paewai, menyebut kebijakan ini sudah melalui uji coba sejak awal April. Hasilnya? Mayoritas sekolah siap menerapkan.

“Tepat 13 April kebijakan diberlakukan. Ini instruksi langsung dari Ibu Gubernur, dan sekolah-sekolah sudah siap,” ujarnya.

Di lapangan, sekolah-sekolah di Gresik tak tinggal diam. Sosialisasi digencarkan, bahkan ada yang membuat video kreatif agar siswa memahami pentingnya pengendalian gadget. Hasilnya mulai terasa—kelas lebih hidup, interaksi antar siswa meningkat, dan fokus belajar kembali ke jalurnya.

Namun, kebijakan ini tidak melarang total penggunaan gadget. Siswa tetap boleh membawa ponsel, tetapi hanya untuk komunikasi dengan orang tua atau kebutuhan pembelajaran yang diawasi guru. Misalnya untuk akses materi digital, kuis daring, hingga pengumpulan tugas.

Yang menarik, kebijakan ini juga mendorong “kebangkitan” interaksi sosial di sekolah. Siswa kini didorong lebih banyak berdiskusi langsung, bergerak aktif, dan membangun komunikasi sehat dengan teman sebaya—sesuatu yang mulai tergerus akibat dominasi layar.

Tak hanya sekolah, orang tua juga diminta turun tangan. Pengawasan penggunaan gadget di rumah menjadi kunci agar kebijakan ini tidak mandek di ruang kelas.

“Dukungan orang tua penting agar anak tidak terpapar pengaruh negatif gadget,” tambah Aries.

Dengan pengawasan berkala dari Dinas Pendidikan, kebijakan ini diharapkan bukan sekadar tren sesaat, melainkan gerakan besar membentuk generasi yang lebih fokus, berkarakter, dan siap menghadapi tantangan masa depan.

Satu pesan tegas kini menggema di sekolah-sekolah Gresik: HP boleh masuk, tapi bukan untuk ganggu masa depan.(co)