kotatuban.id. GRESIK – Aksi tak biasa ditunjukkan Eko Agus Suwandi, Kepala Cabang Dinas Pendidikan (Kacabdindik) Wilayah Kabupaten Gresik. Di tengah forum resmi Rapat Koordinasi (Rakor) bersama kepala SMA, SMK, PKPLK dan jajaran eselon, Senin (13/4), suasana mendadak “pecah” saat ia secara spontan mengeluarkan uang pribadi untuk memberi hadiah kepada para siswa juara Lomba Kompetensi Siswa (LKS) Dikmen tingkat Provinsi Jawa Timur.
Momen itu terjadi di SMAN 1 Cerme. Alih-alih sekadar memberi sambutan formal, Kacabdindik justru membuat kejutan yang langsung menyita perhatian seluruh peserta rakor.
“Ini bukan soal besar kecilnya nominal. Ini bentuk penghargaan nyata untuk kerja keras kalian. Prestasi tidak boleh hanya dipuji, tapi harus dihargai,” tegasnya di hadapan para siswa, pembimbing dan kepala sekolah.
Langkah berani tersebut sontak menuai reaksi beragam. Banyak yang menyebut aksi ini sebagai bentuk kepemimpinan inspiratif, pemimpin yang tidak hanya memberi instruksi, tetapi juga turun langsung memberi motivasi konkret. Namun, tak sedikit pula yang menilai langkah ini sebagai sindiran halus bagi sistem yang selama ini dinilai minim apresiasi nyata terhadap siswa berprestasi.
Mereka yang diberikan apresiasi di antaranya, Moh. Hanif Fardian Al Alaudin dari SMKN 1 Cerme meraih juara 1 bidang Chemistry, Regita Novrinda dari SMKN 1 Driyorejo, juara 2 pada bidang yang sama. Prestasi lainnya diraih Kevin Dwi Saputra dari SMKN 1 Cerme, juara 3 bidang Electrical Installation dan Ardika Cahya Permana dari SMKN 1 Cerme juara 3 bidang Information Network Cabling.
Para siswa pemenang LKS tampak terharu. Mereka mengaku tidak menyangka akan mendapat apresiasi langsung.
“Rasanya bangga dan makin termotivasi. Ini bukan sekadar hadiah, tapi pengakuan atas perjuangan kami,” ujar salah satu peraih juara.
Di sisi lain, momentum ini juga menjadi tamparan keras bagi banyak pihak. Di tengah gencarnya jargon peningkatan kualitas pendidikan, aksi nyata seperti ini justru datang dari inisiatif personal, bukan sistem yang mapan.
Pengamat pendidikan menilai, fenomena ini membuka mata bahwa penghargaan terhadap prestasi siswa masih perlu diperkuat secara kelembagaan. “Kalau apresiasi masih bergantung pada kebaikan pribadi pejabat, berarti ada yang perlu dibenahi dalam sistem,” ungkapnya.
Terlepas dari pro dan kontra, satu hal yang pasti: aksi Kacabdindik Gresik ini sukses mencuri perhatian dan menjadi pembicaraan hangat. Di tengah rutinitas birokrasi yang kaku, langkah spontan ini justru menghadirkan energi baru—bahwa pendidikan butuh lebih dari sekadar program, tapi juga keberanian untuk bertindak nyata.(co)






