kotatuban.id. GRESIK – Atrium Gressmall, Minggu (12/4), berubah menjadi panggung besar unjuk kualitas pendidikan. SMANUSA Exhibition yang digelar SMA Nahdlatul Ulama 1 Gresik tampil bukan sekadar pameran, melainkan arah pendidikan yang kreatif, kompetitif, dan berani tampil beda.
Kegiatan ini dibuka langsung oleh Wakil Bupati Gresik, Asluchul Alif. Dalam suasana yang padat pengunjung, kehadirannya menjadi penegas bahwa sektor pendidikan kini menjadi perhatian utama pemerintah daerah.
Cabang Dinas Pendidikan Wilayah Kabupaten Gresik turut ambil bagian. Meski Kepala Cabdindik berhalangan hadir, kehadirannya didelegasikan kepada Kasi SMA-PKPLK, Joko Sutopo, yang membawa pesan sekaligus klarifikasi penting.
“Beliau tidak bisa hadir karena sejak hari Jumat sedang melaksanakan penguatan kompetensi guru dan tenaga kependidikan di sekolah-sekolah Pulau Bawean. Ini menunjukkan komitmen bahwa peningkatan kualitas pendidikan harus menyentuh seluruh wilayah, termasuk daerah kepulauan,” ungkapnya.
Joko juga menegaskan bahwa kehadiran pemerintah di tengah satuan pendidikan tidak boleh bersifat simbolis semata, tetapi harus nyata dan berdampak langsung.
“Ini bukti bahwa sekolah harus menjadi pusat inovasi dan kreativitas. Tidak ada lagi ruang untuk stagnasi,” ujarnya di hadapan undangan.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Gresik, S. Hariyanto, Ketua PC LP Ma’arif NU Kabupaten Gresik, Muhammad Mujib, jajaran kepala SMP/MTs se-Kota Gresik, serta wali siswa SMANUSA.
Pameran ini menampilkan beragam karya siswa, mulai dari inovasi teknologi dan riset sederhana, produk kewirausahaan, hingga karya seni kreatif. Antusiasme pengunjung terlihat tinggi sejak awal acara, menandakan meningkatnya kepercayaan publik terhadap kualitas sekolah berbasis masyarakat.
Di sisi lain, momentum ini juga dimanfaatkan untuk menyampaikan arah kebijakan ke depan dan program prioritas pendidikan.
Sementara itu, pihak sekolah melalui Kepala SMA NU 1 Gresik, Agus Syamsudin, menyebut kegiatan ini sebagai bentuk komitmen sekolah dalam membangun ekosistem pendidikan yang adaptif.
“Anak-anak harus diberi ruang untuk berkembang. Memberikan keterampilan softskill dan hardskill sehingga anak-anak dapat survive saat lulus dan tidak kuliah nantinya.”
Kegiatan ini sekaligus memperlihatkan pergeseran wajah pendidikan di Gresik. Sekolah tidak lagi hanya berorientasi pada akademik, tetapi juga pada penguatan karakter, kreativitas, dan daya saing.(co)






