kotatuban.id. TUBAN – Jagat media sosial kembali diguncang video memilukan. Aksi perundungan brutal yang diduga terjadi di salah satu SMP swasta di Kecamatan Jenu, Kabupaten Tuban, mendadak viral dan memicu gelombang kemarahan publik. Dalam rekaman yang beredar, seorang siswa berseragam pramuka lengkap dengan peci terlihat menendang kepala siswa lain tanpa ampun, bahkan dilakukan berulang kali dan tidak sendirian.
Aksi kekerasan itu sontak memantik pertanyaan besar: ada apa dengan lingkungan sekolah kita?
Dalam video berdurasi singkat tersebut, korban tampak tak berdaya saat menerima tendangan bertubi-tubi yang mengarah ke bagian kepala. Dugaan sementara, korban mengalami luka di area wajah hingga harus mendapatkan penanganan medis serius. Informasi yang beredar menyebutkan korban sempat dilarikan ke rumah sakit.
Kasi Humas Polres Tuban, IPTU Siswanto, membenarkan kejadian tersebut. Ia mengungkapkan bahwa peristiwa kekerasan itu sebenarnya telah terjadi pada 7 Maret 2026, namun baru mencuat dan viral beberapa waktu terakhir.
“Benar, kejadiannya di salah satu SMP swasta di Kecamatan Jenu. Terjadi tanggal 7 Maret, tapi baru viral sekarang,” tegas Siswanto, Sabtu (18/4).
Pihak kepolisian kini bergerak cepat. Penanganan kasus ini telah masuk ke ranah Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Satreskrim Polres Tuban. Baik keluarga korban maupun pelaku tengah dimintai keterangan guna mengungkap motif di balik aksi kekerasan yang dinilai tak manusiawi tersebut.
“Masih kami periksa, baik dari pihak korban maupun pelaku. Untuk kondisi korban, masih dalam pendalaman,” imbuh Siswanto.
Senada, Kanit PPA Satreskrim Polres Tuban, IPDA Sutikno, menegaskan bahwa proses penyelidikan masih berlangsung intensif. Pihaknya meminta publik bersabar sembari aparat mengumpulkan bukti dan keterangan.
“Kami masih melakukan penyelidikan. Mohon waktu,” ujarnya singkat.
Kasus ini kembali membuka luka lama tentang maraknya perundungan di lingkungan pendidikan. Sekolah yang seharusnya menjadi ruang aman dan tempat tumbuh kembang generasi muda, justru berubah menjadi arena kekerasan yang mengancam keselamatan siswa.
Salah satu pengamat pendidikan di Tuban yang tak mau disebut namanya menyampaikan bahwa peran guru dan orang tua sangat penting. Sekolah menjadi rumah kedua untuk tumbuh dan kembang karakter siswa, sehingga siswa menjadi tanggungjawab guru saat disekolah.
Masih menurut pengamat bahwa orang tua juga tidak hanya “pasrah bongkokan” pada sekolah, karakter anak-anak tentu harus ditanamkan orang tua sejak dirumah, jangan sampai karena alasan sibuk kerja, kemudian tidak sempat mendidik anak.
Pertanyaannya kini, apakah ini hanya kasus tunggal, atau puncak gunung es dari budaya kekerasan yang selama ini tersembunyi?
Publik menunggu langkah tegas, tidak hanya dari aparat penegak hukum, tetapi juga dari pihak sekolah dan pemangku kebijakan pendidikan. Sebab jika dibiarkan, bukan tidak mungkin tragedi serupa akan kembali terulang, dengan korban yang lebih banyak dan luka yang lebih dalam.(co)






